lagu

Laman

Selasa, 29 Januari 2013

Kecerdasan Emosi dan Pengendalian Diri



1.    Pengertian Emosi
Emosi adalah semua jenis perasaan yang ada dalam diri seseorang. Emosi memiliki peranan yang besar dalam dinamika jiw dan mengendalikan tingkah laku seseorang.
Samsu Yusuf mencontohkan sebagai berikut :
a.    Emosi dapat memperkuat semangat apabila seseorang merasa puas dan senang atas hasil yang dicapainya.
b.    Emosi dapat melemahkan semangat apabila timbul rasa kecewa atas kegagalan.
c.     Emosi dapat menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar ketika ada kegagalan, ketegangan perasaan seperti gugup misalnya.
d.    Emosi dapat mengganggu penyesuaian social, misalnya iri hati dan cemburu.
e.    Suasana emosional yang dialami pada masa kecil akan mempengaruhi sikapnya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
2.   Pengertian Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk menenali perasaan diri sendiri, perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Kecerdasan Emosisonal atau Emotional Quotient (EQ) semakin perlu dicermati karena kehidupan manusia semakin kompleks. Kompleksnya kehidupan manusia membawa dampak yang buruk terhadap kehidupan emosional individu, hasil survey Daniel Goleman menunjukkan kecenderungan yang sama di seluruh dunia, bahwa generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya. Mereka lebih kesepian dan penurung, lebih beringas dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup, mudah cemas, lebih meledak-ledak (impulsif dan regresif).
Goleman juga menemukan bahwa banyak juga orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena rendahnya kecerdasan intelektualnya, namun karena kurang memiliki kecerdasan emosional. Sebaliknya tidak sedikit orang yang berhasil dalam kehidupannya meskipun IQ-nya rata-rata saja, tetapi kecerdasan emosionalnya tinggi.
Jeanne Seagel mencontohkan beberapa kasus tentang peranan EQ terhadap seseorang, yaiut :
  1. Kasus Ana, menggambarkan orang yang ber-EQ rendah akibatnya sulit bergaul dan kesepian.
  2. Kasus Hilman, IQ-nya tinggi tetapi EQ-nya rendah. Ia hanya menjadi seorang reparasi alat panggang roti.
  3. Kasus Tono, seorang Dokter gigi yang sering ditinggalkan pasien-pasiennya karena cerewet dan sering berbicara kasar. EQ sang Dokter rendah sekali.
EQ atau kecerdasan emosional itu tumbuh, dipupuk, dipelajari melalui proses belajar dan direspons melalui pengalaman hidup sejak seseorang lahir hingga meninggal. Pertumbuhan dan perkembangan EQ dapat dipengaruhi oleh lingkungan baik lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Menurut Daniel Goleman, ada beberapa kemampuan yang menyebabkan seseorang mempunyai EQ tinggi. Kemampuan tersebut adalah :
  1. Kemampuan memahami atau mengenali emosi diri, yaitu kesadaran diri untuk mengenali perasaan apada waktu perasaan itu terjadi.
  2. Kemampuan mengelola emosi, yaitu mampu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat.
  3. Kemampuan memotivasi diri, yaitu kemampuan untuk menata emosi untuk mencapai tujuan, selalu meyakinkan diri sendiri untuk terus berusaha, tetap bergairah dan antusias terhadap segala yang ingin kita capai.
  4. Kemampuan mengenali emosi orang lain, yaitu kemampuan untuk dapat berempati terhadap orang lain.
  5. Kemampuan untuk membina hubungan, yaitu kemampuan untuk dapat menularkan perasaan positif kepada orang lain.
Seseorang yang secara emosi tidak cerdas biasanya :
  1. Bersifat agresif.
  2. Cenderung berpikir negatif.
  3. Malas dan lebih suka melakukan kegiatan untuk menyenangkan diri secara berlebihan.
  4. Lebih mementingkan diri sendiri (egois).
  5. Tidak mampu menentukan tujuan.
  6. Cepat cemas dan depresi.
  7. Menarik diri dari pergaulan.
  8. Suka memanfaatkan kelemahan orang lain.
  9. Tidak sopan.
  10. Kurang percaya diri.
Seseorang yang secara emosi bermasalah tentu akan sulit untuk mempelajari sesuatu. Remaja yang pemarah, cepat stress dan depresi biasanya malas untuk membuka diri dan menerima pengalaman belajar baru.
Menurutmu, cerdaskah kamu secara emosional???
3.   Pengendalian Diri
Tujuan akhir pengendalian diri adalah untuk mencapai kesuksesan atau keberhasilan. Perjalanan hidup itu sangat dinamis, kadang berliku, menuru atau mendaki. Medan kehidupan yang demikian itu menuntut kita harus menguasai sejumlah kompetensi hidup antara lain pengendalian diri.
a.    Pengendalian suasana hati
Hati atau qolbu adalah pusat kekuatan jiwa. Suasana hati sangat mudah berubah, sejalan dengan dinamika kehidupan yang dialami seseorang. Hati akan menentukan apakah seseorang menjadi mulia atau hina. Hati/qolbu yang membimbing tubuh kita.
Mengendalikan hati berarti selalu membersihkan hati/qolbu sehingga senantiasa memancarkan rasa syukur, rendah hati, kasih saying dan optimis.
b.    Pengendalian pikiran dan visi
Dimensi piker akan membuahkan hasil atau penentu sikap dan perilaku seseorang. Seseorang yang memiliki persepsi/pikiran benar (positif) akan membentuk suatu proses (aktivitas) yang benar juga (positif). Tentu hasil akhirnya juga benar (positif).
Pengendalian pikiran dapat dilakukan dengan mengawasi apa isi terbanyak dalam pikiran kita (subjek apa yang mendominasi pikiran?).
Pikiran hanya sibuk dengan diri sendiri, ini adalah indikator egoisme.
Pikiran yang penuh dengan urusan uang, harta, gelar, jabatan dan keduniawian lainnya, ini juga berati indikator materialisme.
Cara lain untuk mengendalikan pikiran adalah dengan berpikir holistik.
Ir. Ary Ginanjar menyebutkan berpikir melingkar yakni dengan mempertimbangkan semua dimensi.
c.     Pengendalian nafsu/hasrat
Maslow menyebutkan bahwa motif-motif yang mendorong manusia bertingkah laku adalah keinginan memuaskan kebutuhan. Hastar dan nafsu untuk memenuhi kebutuhan tersebut hendaknya tetap terkendali dan dilandasi nilai-nilai keimanan.

0 komentar:

Poskan Komentar